Rabu, 28 April 2010

Merindukan dia

Suatu hari aku bertemu dengan penderita Hyperaktif & ............ (aku lupa istilah medisnya), aku bertemu dia pertamakali disebuah panti asuhan khusus penyandang cacat mental. Aku melihatnya begitu pure tentang kasih sayang seorang manusia. Dia berusia yang sama denganku namanya Hasan, ia senang sekali bernyanyi, berbuat baik, bersyukur & membuat orang lain menjadi tenang.

Tak kusangka tingkahnya yang polos mampu membuatku tertegun & merasa damai, ia amat patuh & penyayang. Sungguh sebuah ketulusan nyata yang diberikannya untuk semua insan, aku ingat ketika ia bernyanyi untuk seorang lansia & membelai lembut tangannya hingga membuat orang itu, seorang lansia penderita stroke mampu tersenyum & membentuk paras bahagia. Terkadang ia membelai kepala siapapun yang ia anggap baik, termasuk aku. Aku sering bercengkrama dengannya saat itu, dia benar-benar polos bak sehelai kertas putih yang bersih tanpa goresan.

Hasan sering sekali bilang mau membantu pihak yayasan untuk mencari sedikitnya 200 dermawan untuk panti asuhannya. Sempat aku menemaninya mencari dermawan & betapa terkejut aku ketika ia berhasil mengajak seorang pedagang kikir untuk ikut dalam anggota dermanya. Taukah kamu apa yang dilakukan hasan untuk meluluhkan hati para dermawan itu? ia bercerita, berdongeng, menghafal bait-bait lagu & menyanyikannya bahkan menceritakan kisah para nabi & memberitahu apa yang ia pelajari dari cerita nabi tersebut kepada orang yang mendengarkan ceritanya.

Dia berkata dengan polos begini "Para nabi bilang, kita harus ikhlas & tidak mengharap kembali dalam menolong, maka kita akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya dalam menikmati hidup." katanya sambil ku bimbing & memandang sekeliling yang ada disekitar dirinya sambil berusaha meraih benda-benda yang terdekat darinya. ya dia memang sangat hiperaktif dengan hal-hal baru yang ia lihat, mau menyentuh apapun yang membuatnya penasaran & mudah bosan jika merasa kecapek'an. Jika ingin mencari dermawan ia harus ditemani agar percaya diri jika berbicara, karena selama ini ia harus mengikuti gerak bibir orang lain agar mau berbicara & harus diawasi.

Kadang aku sering memandang wajahnya dan menebak-nebak "kira-kira apa yang sengang ia pikirkan ya?" dan ia hanya bisa tersenyum & membelai-belai kepalaku. Dia bilang, dengan masih sambil membelai kepalaku "aku sayang sama saudara-saudaraku & aku juga sangat sayang sama egha." Itu adalah kalimat sederhana yang paling manis yang pernah kudengar darinya.

Hasan meninggal dalam usia 17 tahun, ia meninggal karena kejang-kejang saat berenang & tenggelam didalam kolam.

NB : Pengalaman pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar