Rabu, 28 April 2010

Penangkapan seekor cumi-cumi raksasa (Architeuthis)



TOKYO, SENIN--Untuk pertama kalinya, seekor cumi-cumi raksasa (Architeuthis) berhasil ditangkap hidup-hidup dan sempat direkam aktivitasnya. Hewan sepanjang 7 meter itu ditangkap di dekat Pulau Chachijima yang berada sekitar 1000 kilometer sebelah tenggara Tokyo, Jepang awal bulan Desember.

Sejak bulan September, para peneliti dari Departemen Zoologi, Museum Sains Nasional Jepang telah memulai mencari jejak cumi-cumi raksasa dengan mengikuti predatornya, yakni paus sperma. Selama September hingga Desember, paus sperma memang bergerak di sekitar Kepulauan Ogasawara untuk mencari sumber makanan.

Untuk memancingnya keluar, para peneliti menggunakan cumi-cumi kecil yang dikaitkan di ujung kail. Para peneliti yang dipimpin Tsunemi Kubodera akhirnya mendapatkan seekor cumi-cumi raksasa yang berwarna coklat kekuningan dan berhasil merekamnya sejak muncul ke permukaan hingga diangkat ke atas kapal pada 4 Desember.

Kubodera mengatakan, hewan tersebut sempat melakukan perlawanan sehingga sulit dibawa ke atas kapal. Bahkan karena luka-luka yang dialaminya selama ditangkap membuatnya tidak bertahan hidup beberapa lama kemudian.

Ia mungkin termasuk cumi-cumi raksasa yang masih muda. Pasalnya, sebagai hewan tak bertulang belakang terbesar, cumi-cumi raksasa dewasa bisa tumbuh mencapai 18 meter. Namun, karena hidupnya terpencil hingga ratusan meter di dasar laut, keberadaannya di alam masih belum banyak dipelajari.

"Tidak seorang pun pernah melihatnya langsung dalam keadaan hidup kecuali para nelayan," ujar Kubodera saat menunjukkan rekamannya Jumat (22/12). Ia mengatakan, ini mungkin rekaman video pertama cumi-cumi raksasa hidup yang pernah dibuat.

Cumi-cumi raksasa lebih banyak dikenal sebagai mitos sebagai penyerang yang memiliki tentakel beracun. Tim peneliti Jepang telah memulai ekspedisi untuk memburu cumi-cumi raksasa sejak tiga tahun lalu. Mereka berhasil membuat foto pertama cumi-cumi yang hidup di dasar laut menggunakan kamera bawah laut pada 2005.

Dari foto-foto tersebut, para peneliti bisa lebih memahami bahwa cumi-cumi raksasa bergerak lebih lincah dari dugaan semula. Mereka juga memanfaatkan tentakelnya sejak awal untuk menangkap mangsanya.

"Sekarang kami tahun di mana harus menangkapnya, kami yakin dapat mempelajarinya lebih banyak lagi ke depan," ujar Kubodera.


Sumber: AP
Penulis: Wah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar